Minggu, 22 Januari 2012

Api Semangat

Setitik api semangat membakar diri
Memberi sedikit cahaya dalam kegelapan
Memberi harapan akan jati diri yang tak pasti
Dalam gejolak hidup yang amat perih

Kini setapak langkah kupijakkan di jalan takdirku
Mencoba meraih mimpi yang terbesit di pikiran
Melukis kembali asa yang hilang tergores luka
Dan mengukirnya dalam realita kehidupan yang fana

Ku hapus semua ingatan kelam di masa lalu
Dan tak akan ada lagi cerita pilu di dalam benak
Ku akan berdiri tegak dengan segala daya yang tersisa
Hadapi semua yang menghalangi takdir diriku

Tak akan kubiarkan kau mengusik kembali diri ini
Cukup sudah luka yang kau gores di hatiku
Walau amarah kian merasuk jiwa
Tak ada dendam diri berangan membalas dirimu

Satu hal yang pasti...
Berharap semua mimpi yang sempat hilang
Kembali hadir di diri ini
Dan meraihnya di akhir nanti


Jarwanto







Note :
tulisan ini memiliki judul awal meraih mimpi yang hilang dan ditulis pada hari minggu, 7 February 2010 Jam 01:45 WIB

MANUSIA II

Ku berdiri sebagai manusia
Menatap cakrawala dunia dari ketinggian
Penuh warna, tenang, dan menenangkan
Tanpa beban yang menggangu

Mungkin ini arti dari semua yang ada di muka bumi
Keindahan sejati...
Apa adanya dengan yang ada
Jujur akan setiap apa yang terjadi

Namun semua ini terasa ironis
Dimana kenyataan berbicara sebaliknya
Kuasa, Tahta, Materi menjadi arti dari sebuah keindahan
Tak perduli apa syarat yang dibutuhkan
Air mata dan darah pun menjadi saksi kenaifan manusia

Oh Tuhan Sang Pencipta
Dimana kah Engkau saat ini?
Apakah semua ini akan terjadi begitu saja?
Apakah tidak cukup semua korban yang berjatuhan?

Diri ini memang hina dan lancang yang selalu bertanya keberadaan Diri-Mu
Tapi semua ini kulakukan karena ku yakin...
Tidak diriku seorang saja yang lelah
Menyaksikan kemunafikan manusia yang mengaku dirinya suci
Namun tak lebih dari seorang Bangsat yang lebih hina dari binatang


Jarwanto

Putus Asa

Seperti terlelap dalam dunia yang entah dimana
Semua mimpi kini tinggalah mimpi
Indah yang terasa begitu nyata
Kini perih yang terasa sangatlah nyata


Tak kumengerti dimana tempatku saat ini
Mimpi... atau kenyataan...
Terasa berbanding terbalik
Mimpi adalah kenyataan dan kenyataan adalah mimpi


Kini segalanya telah berubah
Tak satupun yang kupahami akan hal ini
Kemanakah aku harus melangkah?
Sedang diriku pun tak tahu dimana diri ini berada


Bisik suara coba menolong tapi tak ada guna sama sekali
Tak jelas darimana datangnya!
Begitu gelap! tak terlihat sama sekali...
Hampa kosong dan kelam...


Wahai Tuhan Sang Maha Kuasa...
Di sini kucoba bertanya kepada-Mu
Apa yang harus kuperbuat?
Apa yang harus kulakukan?


Haruskah ku renggut jiwa ini sendiri
Atau harus kah ku bakar diri ini guna menerangi ruang hampa ini
Agar semua terlihat walau berujung keputus asaan...



Jarwanto

Kamis, 19 Januari 2012

MANUSIA

Hingar bingar kehidupan sang mulia manusia
Penat sesak tak ada habisnya
Begitu keras tanpa rasa di sanubari
Tak ada Benar dan salah sama saja

Apalah artinya ini semua begitu saja
Mengalir deras seperti air di sungai
Terus Menerus berlalu tak terbendung
Tak perduli apa pun lalui semua

Suatu ketika timbul tanya dari dalam kebodohan
Inikah mulia gelar yang disandang manusia?
Atau Tuhan yang bodoh memberi gelar ini kepada manusia?
Memang liar dan tak bermoral tapi ini adanya

Sorak lantang bernada manis bergemuruh
Menghujam dan tajam menepis tanya bodoh
"Dasar makhluk hina kau menghina Tuhan!"
"Hanya neraka tempatmu berada!"

Tartawa terbahak-bahak saja mendengar suara manis
Tak perduli teguh akan tanya yang diucap
Seakan merasa benar akan segalanya
Bebas apa saja suara yang terlontar

Bodoh tetaplah bodoh
Resapi ini baik-baik wahai sang makhluk mulia
Boleh saja kau bersuara tapi siapa aku dan siapa kau ini?
Jika menilai neraka tempatku dimana tempatmu?

Aku dan kau adalah manusia sang makhluk mulia
Neraka tempatku kata dari mu
Begitupun dirimu sama saja
Mari bersama kita ke neraka

Mempertanggung jawabkan gelar yang Tuhan berikan...

                                                                                                               Jarwanto