Rabu, 25 Juni 2014

Ilusi

Aku tersadar dalam sebuah dunia
Terpaku dalam hingar gempita sebuah ambisi
Berwarna namun pelik untuk bersaksi
Niscaya bahagia namun nestapa belaka

Pernyataan seakan hanya pembenaran semata
Dimana kebenaran hanya sebuah ilusi agama
Moralitas seakan tergadai oleh kenikmatan semu
Menggerogoti setiap sisi nurani manusia

Mungkin terlalu naïf, namun inilah kesaksian diriku
Aku melihat, mendengar bahkan merasa
Dimana manusia seakan lupa akan takdirnya
Menjual tujuannya demi kemilau duniawi

Masihkah ada cerita suci dibalik ini semua?
Atau Tuhan sudah menyerah melihat umatnya
Dimana semua muara ini berlanjut hanyalah klise
Dunia ini telah fasih menipu manusia



Jarwanto

Selasa, 04 Maret 2014

Mati Untuk Takdir

Aku mungkin terlelap dalam khayal semu sebuah klise
Terjebak dalam kepalsuan kisah nyata duniawi
Namun aku belum mati dan kisah ini belum berakhir
Dalam sadar hanya Khalik yang akan mengakhiri diriku

Luka mungkin melumpuhkan takdir kisahku
Tapi tak cukup kuat...
Tak akan Kuat...
Ingat sumpahku ini...

Kini makna kembali terukir dalam angan nestapa
Mengais arti demi sambut mati akan takdir haqiqi
Tak perlu kisah semua dalam takdir ini
Biarkan cahaya menuntun kemana arti ini terbawa

Aku siap terhina, terkucilkan, dan terluka
Tertawalah akan semua tindak tandukmu
Karena hanya itu yang bisa dilakukanmu
Aku tetap hidup untuk terus melangkah di jalanku



Jarwanto

Jumat, 20 September 2013

Dalih Kesaksian

Aku disini lahir dengan hawa nafsu yang mendarah daging
Disini, didalam garis takdir kehendak Sang Kuasa
Mengarungi kisah nyata bernama kehidupan
Demi sebuah sosok yang layak menghuni surga

Kini kemilau semu sungguh menyilaukan mata
Membiaskan arti atas segala kehendak Tuhan
Terasa nyata namun palsu untuk dipertanyakan
Dalam nama sebuah hati dan jiwa anak Adam

Mata jadi saksi dan hati teguh merasakan arti
Tak cukup untuk menjelaskan kebenaran
Tak akan, lupakan saja memang mustahil
Bila kuasa hanya sebatas manusia maka tak cukup

Manusia hanya sampah dalam seni cipta Sang Kuasa
Tak cakap, mengemban takdir untuk memimpin
Hina, terselimut anggun dalam anugerah Tuhan
Cinta Tuhan begitu besar untuk makhluk bernama manusia

Apa yang terjadi dan maksud dari semua ini
Dimana cinta untuk Tuhan, bila Agama hanya gaya hidup
Kemana nurani yang diteriakan manusia
Bila logika menjadi tumpuan kejadian kehidupan

Tak ubahnya manusia lain, diri ini pun begitu hina
Tak pantas bila aku yang berbicara seperti ini
Layaknya seorang iblis yang berdalih dalam nama kebenaran
Mungkin tak pantas diri ini menginjakan kaki di surga

Dimana jawaban misteri ini
Kemana aku harus mencari
Sementara jiwa ini terlalu lemah dan nista
Untuk mencari sesosok Pencipta Kehidupan



Jarwanto


Senin, 17 Juni 2013

Keyakinan

Menatap cahaya dalam pekatnya kerinduan qalbu
Seolah tak tersentuh namun jelas terlihat
Apa yang ada memang terasa menyakitkan
Namun sesungguhnya tak seburuk apa yang terjadi

Tak perlu penerangan bila cahaya telah bertindak
Keadaan telah menjelaskan apa yang terjadi
Aku hanya tak perduli dan ingin terus berjalan
Selamanya dalam keyakinan yang kuimani

Momen ini menjadi pesakitan dalam kebodohan
Namaku hilang dimakan waktu yang akan berjalan
Menyisakan sisi gelap yang abadi untuk dikenang
Mungkin ikhlas dan percaya menjadi kunci segalanya

Fakta tak selamanya berpihak namun kebenaran tak akan berubah
Tak perlu lagi bukti karena ini akan terjawab suatu saat
Mungkin ragu namun aku yakin akan cahaya yang menuntun
Tuhan tak akan berdusta atas sabda yang Ia ucapkan

Bila ini menjadi satu langkah awal maka aku akan melaju
Berlari sekencang-kencangnya menjauhi kemunafikan
Walau luka mengiris setiap sisi jiwa ini
Aku tak tak berhenti demi nama sebuah keyakinan



Jarwanto

Malam

Dalam tanya malam berbisik penuh keheningan
Angkara murka tak mampu menenangkan kegelapan
Belenggu kuat mengunci jiwa dalam lelapnya mimpi
Sirna Seketika saat nyata membangkitkan logika

Sempit dunia ini berputar dalam rotasinya
Tak ada warna, hitam putih pun palsu
Hanya abu-abu yang nyata terlihat mata
Membiaskan makna sejati yang terkandung

Sentuhan indah Tuhan seakan tak ada bermakna
Tak ubahnya seperti kata-kata seorang pujangga
Sungguh nista jiwa ini mengimani kepalsuan
Mengalir entah dimana muara akhirnya

Dunia ini tak pernah hidup, mati dalam kebrutalannya
Terlelap dalam dominasi hawa nafsu anak adam
Tenang dan perlahan menjauhi kebenaran
Lalu dimana nuranimu disaat keruh seperti ini

Aku tetap menjadi aku dan selamanya aku
Dimana jawaban berada aku akan berjalan
Bila logika tak mampu menuntun jiwa ini
Maka hati inilah yang akan menunjukkannya



Jarwanto

Selasa, 11 Juni 2013

Keraguan

Semua yang telah terjadi kini meninggalkan sesuatu dalam dirimu
Luka dan penyesalan telah tertanam kuat dalam dirimu
Atas segala keraguan yang hadir menyelimuti sosok diri ini
Namun apakah semua ini harus kuterima begitu saja?

Sejenak terlintas dalam benak hikmah yang kau terima atas semua ini
Bahwa diriku tak berarti dan tak patut untuk diperjuangkan
Karena hanya rasa sakit yang kau peroleh atas usaha yang kau lakukan
Dan aku mengamini semua kesimpulan yang kau tarik atas semua ini

Namun sebelum ini semua berakhir dan lenyap
Beberapa hal yang mungkin belum kau ketahui
Atas nilai yang ada dalam kejadian yang telah terjadi
Dimana akan sulit untuk dimengerti dan diterima

Lihatlah sekeilingmu dan rasakan apa yang sedang terjadi
Dunia seakan hilangan kesadaran dan menjadi panggung pembantaian
Hal duniawi menjadi harta karun yang bernilai tanpa batas
Atas dasar itu salahkah diriku meragukan sosok dirimu?

Benar dan salah menjadi perihal yang sangat kompleks untuk diartikan
Yang terjadi adalah dimana keuntungan berada disitulah kebenaran dijunjung
Lalu dimana kerugian berada disitulah kesalahan dijunjung
Sekali lagi pertanyaan yang sama, apakah aku salah merugakan semua ini?

Telah lama diriku melakukan penyimpangan dalam hidup ini
Demi sebuah jawaban yang tak pernah hadir sampai saat ini
Kini aku harus menanggung konsekuensi atas apa yang telah aku lakukan
Sisi gelap terlahir dan terus menggrogoti setiap sisi kehidupanku

Pencundang dan naif adalah kata yang tak asing
Hingga muak diri ini mendengarnya, memang inilah adanya diriku
Lebih baik menerimanya dibanding harus membohongi diri sendiri
Terlalu sakit untuk melakukannya

Aku terus bertahan dalam situasi dan kondisi seperti ini
Berharap Tuhan akan menjawab semua pertanyaanku
Walau sesungguhnya terlalu berat beban yang harus dibawa
Jawaban adalah harga mati yang harus dibayar



Jarwanto

Jumat, 17 Mei 2013

Gerbang Kebenaran

Oke kali ini sedikit menyimpang dari penulisan biasanya. Hehe... Lanjut. :)

Berbicara kebenaran pasti berkaitan dengan fakta atau sesuatu yang benar-benar terjadi dalam hidup ini. Namun, apakah fakta benar-benar menunjukkan kebenaran? Disinilah titik mula permasalahannya.

Manusia seringkali berteriak-teriak tentang kebenaran, mengaku seakan-akan apa yang diperbuat sesuai dengan nilai kebenaran. Apabila yang dilakukannya dianggap salah  lalu berkelit dengan dalih sejuta warna. Ya walaupun begitu memang manusia begitu adanya(termasuk saya).

Atas dasar asumsi diatas maka saya berfikir dimana letak kesalahannya dan siapa yang patut dipersalahkan. Menurut saya berdasarkan pemikiran pribadi ada beberapa hal mengapa kebenaran sulit diungkapkan.


  1. Manusia tidak pernah tahu mana kebenaran dan kesalahan. Manusia hanya dapat menilai sesuatu benar atau salah berdasarkan aturan dan persepsi tertentu dimana ia menerimanya sebagai kebenaran
  2. Manusia adalah makhluk munafik. Hal ini terlihat dari penyimpangan yang dilakukan manusia saat hati dan pemikirannya berbeda sehingga kebenaran termanipulasi oleh fakta yang terjadi sebagai akibat penyimpangan yang dilakukan manusia.
  3. Manusia adalah Tuhan untuk hidupnya sendiri. Manusia memiliki anugerah dari Tuhan YME yaitu kebebasan dalam memlih jalan yang benar atau salah, sehingga manusia bebas melakukan apa saja dalam kehidupan semu ini. Hal tersebut memicu terjadinya manipulasi fakta yang akibatnya menutup kebenaran.
Saya menarik tiga sebab diatas mengapa kebenaran sulit untuk diungkapkan. Benar atau salah anda semua yang menilainya. Namun apabila apabila ada kebenaran dari tulisan saya adalah murni dari Allah SWT dan apabila ada kesalahan maka murni datangnya dari diri saya sendiri.

Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih buat yang menyempatkan diri mampir ke blog saya dan saya sangat membuka kritik atau tambahan atas tulisan yang saya buat demi sesuatu yang bernilai untuk kehidupan ini. Terima kasih.